Kisah di Balik Situ Gunung, Antara Legenda dan Mitos Bah Jalun Hingga Wisata Air Peninggalan Belanda

Minggu, 19 Nov 2023 09:00
    Bagikan  
Kisah di Balik Situ Gunung, Antara Legenda dan Mitos Bah Jalun Hingga Wisata Air Peninggalan Belanda
Indonesiatren.com

Danau Situ Gunung yang berlokasi di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

INDONESIATREN.COM - Sebuah danau di ketinggian sekitar 1.050 mdpl dengan luas sekitar 17 hektare sering menjadi tujuan favorit wisata. Danau tersebut bernama Situ Gunung. Lokasinya ada di kaki Gunung Gede-Pangrango, secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Situ Gunung seringkali digunakan wisatawan yang ingin menikmati kemah di hutan dengan suasana gunung dan danau, mirip seperti Ranu Kumbolo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.

Situ Gunung berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. Untuk lalu lintas normal, menempuh waktu sekira 45 menit menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Jika lalu lintas macet, waktu tempuh bisa berkali-kali lipat. Maklum, ada objek wisata primadona yang hari ini sedang hype di sebelah Situ Gunung, yakni suspension bridge alias jembatan gantung.

Baca juga: Cerita Dibalik Misteri Gunung Sunda dan Goa Lodaya di Sukabumi

Keberadaan Situ Gunung tak terlepas dari sosok legenda yang disampaikan dari mulut ke mulut oleh warga setempat. Sosok tersebut adalah Raden Rangga Jagad Syahdana atau dikenal dengan julukan Jaka Lulunta, kemudian sohor dikenal Mbah Jalun.

Nama Jaka Lulunta diambil, lantaran konon sosok yang sakti mandraguna itu tengah melarikan diri dari kejaran Belanda hingga menemukan Situ Gunung sebagai tempat sembunyi dan membangun peradaban.

Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Situ Gunung, Asep Suganda yang kurang lebih sudah 20 tahun bertugas menjaga kawasan tersebut mengatakan, dari cerita sesepuh Kadudampit, mendiang Abah Oji yang wafat tahun 2019 lalu.

Sosok Mbah Jalun dikenal karena telah membangun bendungan Situ Gunung untuk menampung air, di mana air tersebut kemudian dialirkan untuk mengairi kawasan permukiman yang ada di bawahnya.

"Almarhum Abah Oji semasa hidupnya menceritakan kepada kami bahwa Mbah Jalun berada di Situ Gunung sekitar tahun 1770-1841. Bahkan menurut Abah Oji, Mbah Jalun ini beragama islam," kata Asep.

Baca juga: Banyak yang Tidak Tahu, Dibalik Nama Jalan Selabintana Sukabumi Ada Kisah Serangan Jepang Ke Pearl Harbor

"Menurut versi cerita rakyat ini, Mbah Jalun pada tahun 1839 pernah tertangkap oleh Belanda sampai akan dihukum gantung di Alun-alun Cisaat. Cuma saat itu Mbah Jalun berhasil lolos. Nah, dalam penyamarannya setelah lolos dari Belanda, beliau dipanggil Mbah Jalun," katanya lagi.

Asep Suganda menyebut, kisah legenda tentang Mbah Jalun sampai saat ini masih sering diceritakan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun. Namun, belum bisa dipastikan apakah sosok Mbah Jalun ini adalah nyata atau hanya personifikasi karena belum ada bukti-bukti otentik atau penelitian secara khusus yang bisa membuktikan keberadaannya.

Terlebih lagi untuk membuktikan apakah benar Situ Gunung dibangun oleh Mbah Jalun atau terbentuk dengan sendirinya.

"Bahkan sampai sekarang di mana lokasi makam Mbah Jalun belum ada yang mengetahui. Untuk membuktikan bahwa sosok Mbah Jalun ini benar-benar ada memang perlu penelusuran lebih jauh," imbuh Asep Suganda.

Terlepas dari versi cerita rakyat, Asep Suganda juga menjabarkan kemungkinan bahwa Situ Gunung adalah bekas kawah gunung purba yang meletus yang cekungannya membentuk danau seperti sekarang.

Baca juga: 5 Mitos Pantai Di Sukabumi Ini Menyimpan Hal Mistis yang tersembunyi, Katanya Orang Bandung Jangan Kesini

Karena, kata Asep, terdapat jenis batuan vulkanik di area sekitar Situ Gunung. Kemudian ada lapisan pasir yang menandakan bekas letusan gunung.

"Tetapi memang untuk membuktikan hal itu perlu riset juga dari para ahlinya. Sampai saat ini belum ada yang sampai ke sana, meneliti apakah benar Situ Gunung ini bekas kawah gunung purba yang meletus," sambungnya.

Asep Suganda justru mengetahui tentang awal mula Situ Gunung yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) menjadi kawasan cagar alam.

Ia mengulas pada tahun 1889, beberapa ahli botani eropa, tak terkecuali Belanda datang untuk meneliti ekosistem di Situ Gunung sehingga di tahun itu Situ Gunung dan kawasan Cibodas, Puncak, masuk dalam kawasan Cagar Alam Cimungkad.

Cimungkad sendiri saat ini dikenal sebagai kawasan konservasi Elang Jawa yang masuk ke wilayah Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.

"Belanda ini datang sekaligus ingin meneliti flora dan fauna di kaki Gunung Gede Pangrango. Hal ini dibuktikan lewat beberapa foto era Belanda yang sudah kami arsipkan rapi. Pada tahun 1928 kemudian Belanda menjadikan Situ Gunung sebagai waterpark atau taman wisata air."

Baca juga: Apakah Benar Mitos Usai Konsumsi Sayuran Kangkung Bisa Bikin Ngantuk? Begini Penjelasan Menurut Peneliti

"Seiring waktu, menurut sejarah yang saya baca, tahun 1977 Cagar Alam Cimungkad diubah menjadi Cagar Biosfer Cibodas oleh UNESCO. Setelah itu tahun 1980, persisnya tanggal 6 Maret, ditetapkan menjadi taman nasional, tergabung dalam TNGGP yang luasnya 15.196 hektare mencakup Bogor, Sukabumi dan Cianjur," paparnya.

Sampai sekarang, masih kata Asep, Situ Gunung meski jadi objek wisata, namun masih dijaga betul kelestariannya. Terlebih, danau yang dahulu kala luasnya 21 hektare itu sering dikunjungi beberapa satwa liar endemik Gunung Gede-Pangrango, seperti macan tutul, babi hutan, landak, kijang, rusa, hingga beberapa jenis burung, reptil dan serangga unik lainnya.

Malahan dalam waktu tertentu sering ada burung migrasi seperti burung pecuk ular hingga dara laut atau sering disebut burung rayak-rayak yang transit di Situ Gunung. Ia dan timnya tak jarang mengabadikan momen datangnya satwa liar yang datang menggunakan camera trap.

"Karena itu kita sudah cukup sering melakukan pengawasan. Apalagi upaya menjaga dan merawat wilayah yang masuk taman nasional inisudah diatur dalam Undang-undang. Dalam periode tertentu kita selalu melakukan evaluasi. Ini perlu perhatian dan kesadaran bersama. Karena manfaatnya kan sudah dirasakan bersama, yang paling nyata itu oksigen dan air. Maka dari itu kita perlu menjaganya bersama," pungkas Asep Suganda.

Baca juga: Di Balik Dinding Rumah Peninggalan Belanda Ini, Tersimpan Banyak Kisah Penyintas Kanker Se-Indonesia

Sementara itu diwawancarai terpisah, pakar sejarah dari Yayasan Dapuran Kipahare, Irman Firmansyah menyebutkan, Situ Gunung sudah dikenal sejak dulu, baik karena legendanya maupun aktivitas penelitian dan wisatanya.

"Sejak tahun 1881 sudah menjadi perkebunan yang lumayan besar. Dalam Java Bode 30 November 1888, Situ Gunung sudah disebut sebagai danau yang indah atau Mooi Bergmeer. Situ Gunung sudah memiliki pemandangan danau yang indah, transportasi terjangkau," katanya.

"Kano dan rakit dapat disewa untuk mengelilingi danau, karena telaga gunung seluruhnya berada di kawasan hutan lindung, airnya tidak tercemar dan bersih. Awalnya hanya bagian tengah di gunung yang cocok untuk berenang, karena masih banyak tanaman air yang masih harus dibersihkan di pinggir-pinggirnya," ungkap Irman.

"Pastinya semua sudah tahu mengenai kisah masyarakat tentang danau Situ Gunung yang konon dibuat oleh bangsawan Mataram yang buron ke wilayah Priangan dan menetap di lereng Gunung Gede, bernama Mbah Jalun, nama yang disematkan kepada Rangga Jagad Syahadana atas nama anaknya, Jaka Lulunta, pada sekira 1770-1841."

"Konon Mbah Jalun-lah yang mengeruk tanah Situ Gunung sehingga menjadi danau dengan menggunakan kulit kerbau, untuk menunjukkan rasa syukur atas kelahiran anaknya. Menurut informasi masih ada keturunan Mbah Jalun hidup di kawasan Situ Gunung. Sebagian warga percaya bahwa Mbah Jalun diselamatkan dari gantungan Belanda di Alun-alun Cisaat pada 1814, lalu melarikan diri ke Bogor," imbuh Irman.

Ia pun menyebut masih ada juga versi lain yang beredar bahwa nama asli Mbah Jalun adalah Jamalun dan merupakan cucu Mbah Dalem (Dalem Raden Fatra Santana). Versi ini, kata Irman, berbeda dari kisah yang berkembang di mana kuburannya berada di kompleks pekuburan Nyangkowek.

"Masih menjadi polemik apakah kisah ini hanya legenda atau nyata, VN Misra dan peter Bellwood dalam bukunya Recent Advances in Indo-Pacific Prehistory menyebutkan bahwa sedimentasi di danau dimulai hampir 8.000 tahun yang lalu, sehingga sejarah vegetasi yang tercatat di sana seluruhnya berada pada masa Holosen."

"Namun, terkait nama Situ Gunung sendiri mirip degan Tasik Ardi di Banten, sebuah danau yang dibuat untuk keluarga kerajaan dan pengairan. Dalam Poesaka Soenda keluaran 1922, dijelaskan bahwa tasik berarti situ atau talaga, ardi artinya gunung, dan Situ Ardi merupakan danau buatan," papar Irman.

Pegiat sejarah yang akrab disapa Irman Sufi itu menambahkan, banyak peneliti dunia yang datang ke Situ Gunung, diantaranya Reindwardt (1819), Junghunn (1839), JE Teysman (1839), AR Wallace (1861), SH Koorders (1880), Treub (1891), Dr Van Leuweun (1918), CGJ Van Steenins (1920) dan Hindelbrand.

Mereka meneliti tentang alam baik flora maupun faunanya. Kemudian Agustus 1933 ada kunjungan dari orang Batavia yang tergabung dalam program Natuur Historische Vereeniging.

"Sekira Juni 1934, E. Bartels membuka resort Situ Gunung yang disewa dari pemerintah. Resort itu dilengkapi bungalow dan wisata air baru, sekaligus jalan Situ Gunung supaya bisa dimasuki roda empat."

"Bartels juga menanam sejumlah besar ikan muda, serta ikan induk, terutama ikan mas Galicia, tawes, gurami dan banyak spesies lainnya. Sebulan kemudian terjadi kecelakaan saat pesta malam venesia dengan menggunakan perahu namun beberapa perahu terbalik sehingga beberapa orang tenggelam dan dirawat di rumah sakit."

"Bulan Oktober 1934 dilakukan selametan yang dihadiri bupati dan asisten residen, dengan menurunkan 160 rakit dan di film oleh The People of the Java Pacific Film Comp. Hingga kini Situ Gunung masih menjadi tempat yang indah dan terjaga," pungkas Irman.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Trending Hari Ini

  1. Lowongan Kerja

Berita Terbaru

Lowongan Kerja

Ragam Kamis, 4-Jun-2026 18:59
Lowongan Kerja
Gugat PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Kesimpulan Kuasa Hukum Ahli Waris Labbai: “Alas Hak Tergugat CACAT HUKUM dan TIDAK MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM”
Buktikan sebagai Pemilik Lahan Jelang Sidang Kesimpulan, Ahli Waris Labbai Bersihkan Kawasan yang Diduduki PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Minggu, 31-May-2026 23:04
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Jumat, 29-May-2026 19:24
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Rabu, 27-May-2026 21:41
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 26-May-2026 22:47
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Senin, 25-May-2026 21:14
Lowongan Kerja
259 Karung Material Hitam Disita Polda Gorontalo, 2 Terduga Pelaku PETI Terancam Hukuman 5 Tahun Penjara dan Denda 100 M
5 Hari Jelang Idul Adha, Inilah Menu Lezat Daging Kambing dan Sapi yang Layak Disiapkan bagi Keluarga
Sukses Digelar di SCBD Park Jakarta, KiN Space Dipuji Wamen Kebudayaan RI: “Efektif Menanamkan Rasa Cinta Budaya Indonesia sejak Usia Dini”
Pernah Tugas di KPK, Jabat Irjen, dan Kini Wakil Rektor Perbanas Institute, Haryono Umar: “Kita Butuh Presiden yang Betul-Betul Cinta kepada Rakyatnya”
Sidang Kesimpulan Ditunda, Jubir Labbai Ungkap Putusan MA yang Mendasari Aksi atas Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar
Terkait Sengketa dengan Pihak Lain, Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar Coba Dirobohkan Ahli Waris Labbai
Jelang Sidang Kesimpulan, Ahli Waris Tanah Labbai Berharap Menang Gugatan Atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar
Membedah Surat-Surat Labbai dan H. Raiya Dg. Kanang di Tanah yang Kini Diduduki PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Sabtu, 16-May-2026 23:15
Lowongan Kerja
Agar Kuat Berjuang Melawan PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Labbai Ziarah ke Makam H. Raiya Dg. Kanang
Tanah 27 Hektar, NJOP 1.416.000, Diklaim PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Labbai: “Yang Kamu Lawan Siapa”
Jubir Labbai tentang Sengketa Tanah Lawan PT Bumi Karsa-Kalla Grup di Lantebung Makassar: “Allei Siri Nu”